Kota yang Istimewa, Romantis dan Indah Bernama Yogyakarta

“There’s a reason why Yogyakarta is called Special Region of Yogyakarta”

Saat menulis tulisan ini, aku baru saja kembali dari Jogja. Perjalanan sejauh kurang lebih 280 km (Ciamis-Jogja) kali ini kutempuh dengan menggunakan motor. Perjalanan ke Jogja dengan motor inipun terasa seperti perjalanan untuk memenuhi jadwal ngapel pasangan yang sedang LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh. Ya, saat ini aku sedang LDR-an dengan Jogja.

Gagal Move On

Mungkin teman-temanku yang baca tulisan ini bakal heran kenapa aku gak pernah bosan pergi ke tempat yang namanya Yogyakarta alias Jogja ini. Bahkan semenjak tahun 2016 atau semenjak aku bekerja, aku lebih sering pergi ke Jogja daripada pulang ke rumah orang tuaku di Batam.

Memangnya ada apa di Jogja ini?Pacar gak ada, teman-teman juga tinggal sedikit di Jogja, lalu apa yang dicari?Kok sampai rela naik motor sejauh 280 km hanya untuk ke Jogja?Eits, jangan salah, kalau naik motor aku memang hobi, tapi kalau pertanyaan lainnya….Entahlah, mungkin saja aku hanya gagal move on dari Jogja. Ibarat kata mantan, Jogja adalah mantan terindah, cuma kenangan indah yang teringat dari Jogja. Yah, meskipun ada yang berpendapat kalau mantan memang terindah gak akan jadi mantan.

Kekasih…

Daripada mantan, aku lebih senang menggunakan istilah “Kekasih” untuk Jogja. Ya, dia kekasihku, tetapi juga mungkin menjadi kekasih orang-orang lain yang juga terpana akan keistimewaannya, keromantisan dan keindahannya. Kalau memang Jogja menjadi “Kekasih”, maka Jogja akan menjadi “Kekasih” yang istimewa. Kamu tidak akan kekurangan apapun kalau menjadikan Jogja sebagai kekasih. Tidak percaya?

Bosan?Gelisah galau merana?Kelilingilah kota Jogja, maka di lampu-lampu merah kamu akan menemukan hiburan-hiburan dengan kearifan lokal yang siap menghibur dan menghilangkan kebosananmu atau mengobati luka hatimu. Kadang ada yang menari-nari, ada yang main musik dengan alat musik tradisional, atau perhatikan dinding-dinding Jogja yang penuh mural-mural kreatif karya seniman-seniman jalanan. Kalau tidak pergilah ke Malioboro, duduklah di tempat-tempat yang sudah disediakan, nikmati saja hiruk pikuk keramaian para pendatang yang berinteraksi dengan para penjual disana, dan banyak juga hiburan dari para musisi jalanan. Kalau kata Om Katon Bagaskara : “Musisi jalanan mulai beraksi…”

Sesudah semua itu masih galau juga?Pergilah ke arah Selatan, ke pantai, banyak sekali pilihan pantai di Yogyakarta, tinggal pilih, mau yang ramai atau yang sepi?Yang jelas di setiap pantai akan ada yang siap sedia menawarkanmu kelapa muda atau jagung bakar untuk menemani harimu di pantai. Nikmatilah suara deburan ombak pantai Selatan, anginnya, sunset-nya, pantai Jogja akan menjadi obat terbaik untuk luka hatimu.

Ternyata kegalauanmu disebabkan oleh kekasihmu yang tidak setia?Oh tenang saja, Jogja selalu setia, ia bahkan tidak berubah! Jogja akan selalu menyambut kembali dirimu, kapanpun kamu kembali. Meski penampilannya kerap berubah karena banyaknya hotel-hotel yang terus menjamur, keramahannya tidak berubah,  kelembutannya juga tidak berubah, meskipun kamu mungkin sudah lama tidak kembali kesana. Kembali kalau kata Om Katon Bagaskara : “Masih seperti dulu…Tiap sudut menyapaku bersahabat..”

Puas berkeliling lalu kamu baru ingat kamu belum makan?Lapar?Jogja adalah surganya mencari makanan. Pergilah ke angkringan. Sudah murah, enak, para penjualnya juga ndak protes kalau kamu ambil nasinya banyak-banyak, apalagi bagi mahasiswa-mahasiswa yang uang jajannya pas-pasan, yang kalau sudah akhir bulan, nemu koin 500 sudah seperti nemu emas terpendam, atau nemu uang 10 ribu yang ikut tercuci bersama celana atau baju sudah kayak nemu harta karun terpendam, sudah tentu Jogja paling pengertian. Sudah begitu, keramahan penjualnya juga akan membuatmu betah, gak akan penjualnya ngusir meskipun kamu cuma pesan kopi hitam. Jogja juga siap sedia 24 jam pula menyediakan makanan untukmu kaum-kaum yang suka ngalong.

Namun namanya didunia, tidak ada yang sempurna. Jogja juga memiliki kekurangannya. Jogja mulai macet, jalanan Jogja mulai dipenuhi dengan mobil-mobil dan motor-motor sepanjang waktu. Sudah jarang terlihat sepasang muda-mudi memadu kasih sambil bersepeda berdua, sekarang muda-mudi Jogja lebih senang memadu kasih sambil boncengan di atas motor sport… Padahal naik motor sport itukan pegal ya, tapi ya namanya lagi sayang-sayangnya, pegal-pegal sedikit tak apalah asal bersama pujaan hati. Nah yang cilaka ini yang memadu kasihnya di kamar kost, duh, cilaka tenanan iki, saking ramahnya Jogja, tempat-tempat buat begini begitu ya banyak, ini yang cilaka. Hah, tapi mbohlah, resiko ditanggung penikmat, aku tutup mata, tutup telinga dan tetap mencintai Jogja apa adanya.

Nah, terbukti sudah kalau Jogja itu romantis, ndak banyak gombal-gombal sana sini, ndak banyak rayuan Pulau Kelapa atau pulau-pulau lainnya, tapi aksinya, perbuatannya yang membuat Jogja jadi romantis. Jogja itu sedikit bicara, banyak aksi.

Iya, ndak kayak politikus yang banyak bicara di tivi tapi ndak jelas aksinya. Mungkin karena ndak jelas namanya jadi politikus ya, kalau jelas mungkin jadi poliklinik. Kalau poliklinik kan jelas-jelas layanan masyarakat dalam bidang kesehatan, kalau politikus kan ndak jelas…

Iya, ndak kayak mas-mas ndak bertanggung jawab yang penuh rayuan-rayuan maut dan gombalan-gombalan ala buaya darat kelas kakap (buaya kelas kakap ki kepiye…), terus biasanya berujung dengan ucapan : “Ora opo-opo dek, nanti aku tanggung jawab”. Halah mas, kalau sampai kejadian ya sampean lari duluan pasti.

Kembali ke Move On…

Dengan segala hal yang ditawarkan Jogja seperti itu, bagaimana aku mau move on dari Jogja?Bagaimana caranya supaya aku tidak lagi merasa perlu kembali ke Jogja?Nggak di Jogja saja ingatnya Jogja terus. Begitu ke Jogja langsung nostalgia. Datang ke tempat makan yang dulu suka didatangi. Ketemu penjual roti bakar langganan. Keliling malam-malam, sambil mengingat rute-rute yang dulu sering dilewati. Kayak kata om Katon Bagaskara : “Terhanyut aku akan nostalgi…Saat kita sering, luangkan waktu…Nikmati bersama, suasana Jogja…”

Makanya sampai sekarang aku belum juga move on dari Jogja. Aku selalu ingin kembali ke Jogja. Perjalanan menuju Jogja selalu membuatku semangat, sedangkan perjalanan meninggalkan Jogja membuatku begitu tidak semangat. Aneh memang kenapa kok bisa aku begitu mencintai suatu tempat, merasa bahwa tempatku sebenarnya di Jogja, bukan di tempat lahirku di Lampung, atau tempatku pulang di Batam, atau tempat kantorku berada di Jakarta, tapi di Jogja. Hanya Jogja yang tidak pernah gagal mengembalikan semangat dan mengobati semua luka.

Aku berharap kalau Jogja selalu mengijinkan aku untuk kembali kesana. Dan untuk terakhir kalinya, meminjam kata-kata om Katon Bagaskara : “Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi…Bila hati mulai sepi tanpa terobati…”

I truly belong to a special, romantic and beautiful place, called Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s