Berakhir Pekan di Gunung Galunggung

Bulan Juli 2018 lalu, aku dan teman satu kostku dulu, Aryanto Wijaya pergi bersama-sama ke Gunung Galunggung, sebuah gunung yang berjarak sekitar 17 km ke arah barat dari kota Tasikmalaya.

“Dick, bulan Juli ke Galunggung yok, nanti aku dari Jakarta naik kereta ke Tasikmalaya, kita ketemu di Tasikmalaya aja, terus barengan ke Galunggung”. Kira-kira seperti itulah inti dari pesan whatsapp Aryanto Wijaya pada bulan April 2018. Sontak aku langsung mengiyakan saja ajakannya, diajak jalan-jalan sih aku jarang sekali menolak. Akhirnya kami berdua memutuskan akan pergi ke Galunggung pada 7 Juli 2018.

Tepat pukul 5 pagi aku memacu motorku dari mes proyekku yang terletak di Ciamis. Malam sebelumnya, Ary, sudah mengabariku kalau ia sudah didalam kereta menuju Tasikmalaya. Akupun memacu motorku dengan laju yang cukup kencang, selain jalanan masih sepi, aku juga tidak enak jika Ary terlalu lama menunggu di stasiun Tasik.

Jam menunjukkan pukul 05.42 ketika aku sampai di stasiun Tasik. Karena masih pagi, dan kebetulan kami sama-sama belum sarapan, Ary mengusulkan agar kami sarapan terlebih dahulu sebelum berkendara menuju Galunggung. Kamipun memutuskan untuk menyantap bubur ayam yang kami temui berjualan di pinggiran jalan, tidak terlalu jauh dari stasiun. Sambil menyantap bubur, penjual bubur bertanya kemana tujuan kami. Kamipun menjawab kalau kami mau menuju Galunggung. “Oh, kalau Galunggung bagusan kalau malam, a, ada lampu-lampunya kelihatan bagus”, kira-kira begitulah terjemahan ucapan penjual bubur pada kami, maklum, aa penjual buburnya berbicara dalam bahasa Sunda, sedangkan aku tidak mengerti bahasa Sunda, untungnya Ary temanku ini asli orang Bandung, jadi dia paham akan maksud aa penjual bubur ini. Setelah mendengar ucapan aa penjual bubur, kami tetap memutuskan untuk berangkat pagi ini, kalau malam, rasany terlalu beresiko, apalagi kami berdua menggunakan motor untuk ke Galunggung.

Menuju Puncak Galunggung

Usai menyantap bubur, kami langsung bergegas menuju Galunggung. Mengandalkan mbah Google Maps, aku membonceng Ary menuju Galunggung. Sekitar 30 menit melewati jalan aspal yang sempit dan penuh lika-liku, kami sampai di pos pertama masuk ke kawasan Galunggung. Biaya masuknya Rp. 13.000,- kalau tidak salah. Usai melewati pos, jalannya bercabang dua, yang kiri dan menanjak menuju Galunggung, sedangkan yang kanan dan tidak menanjak menuju pemandian air panas. Sempat timbul keraguan apakah motorku sanggup menanjak, karena memang sudut tanjakannya cukup tinggi, dan akhirnya aku terus memacu motorku dengan gigi 1, motorku meraung kencang, protes rpm sudah maksimal kok masih di gas, apa boleh buat, daripada tidak kuat nanjak pikirku.

Galunggung 70718_180816_0005
Kami melaju diatas motor Yamaha R15 milikku. Dok : Aryanto Wijaya

Tidak berapa lama, kami sampai di pos kedua dan…..bayar lagi. Kali ini Rp 2.000,-. Petugas berujar bahwa ini adalah biaya parkir.”Kenapa tidak dijadikan satu saja sih di pos pertama”, batinku sambil menyodorkan uang kertas bergambar Pangeran Antasari, mendiang Sultan Banjar dan juga pahlawan nasional. Sama seperti di pos pertama, jalan kembali bercabang. Kami memilih jalan yang lurus (dan kembali menanjak) menuju puncak Galunggung. Tidak seperti perjalanan kami dari pos 1 ke pos 2, yang jalannya mulus, perjalanan dari pos 2 menuju puncak ini dipenuhi jalan-jalan dari beton yang sudah pecah, jadi agak sedikit berbahaya kalau menggunakan roda dua.

Tidak lama kemudian, kami sampai di tempat parkir menuju puncak Galunggung. Saat kami sampai, masih sangat sepi sekali, bahkan yang jualan baru beberapa yang buka. Aku memarkir motorku tepat di depan salah satu warung yang belum buka. Tempat parkirnya ada yang jaga kok, jadi buat yang mau meninggalkan helmnya, tidak apa-apa, kalau masih ragu juga di kaitkan saja ke jok motor.

Untuk naik ke puncak Galunggung ini, sudah dibuatkan 620 anak tangga. Ada 2 tangga yang bisa dipilih, yaitu tangga biru dan tangga kuning. Kami memutuskan untuk naik melalui tangga kuning karena lebih dekat dari posisi parkir motor.

Sebelum naik tangga, kami dihampiri oleh seseorang yang tampaknya juga petugas yang berjaga disana. Usut punya usut, ternyata untuk naik ke puncak Galunggung, kami harus membayar lagi. “5000 seorang, a”, kurang lebih begitulah intinya, karena kembali, petugas ini mengucapkan semuanya dalam bahasa Sunda, dan yang kutangkap hanya itu saja. Akupun menyodorkan selembar uang 10 ribu bergambar Gubernur Papua periode 1964-1973 yang juga merupakan pahlawan Nasional, Frans Kaisiepo.

DSCF1968
Tangga Kuning

Perjalanan menaiki tangga inilah yang paling menantang dari seluruh rangkaian perjalanan kami ke Galunggung. Di tangga ini lah, stamina kami diuji, apakah stamina kami sesuai dengan usia atau tidak. Dan ternyata, tidak. Setiap beberapa anak tangga, kami harus berhenti, mengatur nafas dan menghilangkan rasa pegal dikaki sebelum akhirnya sampai di puncak. Bagi yang punya pasangan, mungkin bisa mengetes kesetiaan pasangannya di tangga ini, apakah pasangan kalian akan menaiki tangga menuju puncak kebahagiaan bersama kalian atau pergi duluan ke puncak karena kalian yang sebentar-sebentar istirahat?

Sampai di Bibir Kaldera

Setelah perjuangan kurang lebih selama 20-30 menit yang penuh dengan nafas yang tersenggal-senggal dan kaki-kaki yang pegal, kami sampai di atas dan disuguhkan pemandangan kaldera/kawah yang lebih mirip sebuah danau di puncak gunung. Sebenarnya untuk disebut puncak, kurang tepat sih, karena terlihat masih ada titik yang lebih tinggi daripada tempat dimana kami berpijak, titik tertingginya Gunung Galunggung ini adalah 2.168 mdpl, namun memang tempat kami berpijak ini adalah bagian dari bibir kaldera Gunung Galunggung, jadi ya, puncak juga sih.

1531061193798

Kami memutuskan untuk berjalan mengitari kawah Gunung Galunggung, sembari melihat-melihat. Terlihat beberapa orang sedang menyiapkan dagangan di warungnya masing-masing, namun pengunjungnya masih sangat sepi, kurasa kami salah satu yang datang paling awal, di samping beberapa pengunjung lain.

Sayangnya tidak ada satupun papan penjelasan yang menceritakan sejarah Gunung Galunggung setelah kami mengitari bibir kaldera Gunung Galunggung, padahal kami berharap akan ada penjelasan yang menceritakan sejarah Gunung Galunggung ini ,terutama letusan-letusannya dulu yang terkenal dahsyat. Saking dahsyatnya, letusan terakhir Gunung Galunggung pada 5 Mei 1982 diceritakan disertai dengan suara dentuman, pijaran api dan halilintar. Letusan periode tersebut baru berhenti setelah kurang lebih 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983 dan menyebabkan perubahan peta wilayah dalam radius 20 km dari kawah Gunung Galunggung yang disebabkan melimpahnya aliran lahar dingin. Bahkan ada 18 korban jiwa akibat dari letusan tersebut.

Oh ya, menurut informasi dari Ary, Gunung Galunggung ini masih aktif lho, jadi meski terlihat tenang, namun saat ini Gunung Galunggung sedang tertidur dan mungkin akan kembali memuntahkan isi perutnya di masa depan. Tentu aku dan Ary berharap bahwa letusan berikutnya tidak akan sedahsyat letusan terakhirnya, atau kalau bisa jangan meletus deh!

DSCF1970

Galunggung 70718_180816_0011
Dok : Aryanto Wijaya

Saat sedang mengitari bibir kaldera, kami melihat ada rangkaian anak tangga yang menuju dasar kawah. Seusai memastikan tidak adanya larangan untuk turun, aku dan Ary mulai menuruni anak tangga menuju dasar kawah. Perjalanan turunnya tidak sejauh saat kami menaiki tangga kuning, namun terasa lebih berat karena kali ini kaki menopang jatuhnya beban tubuh sekaligus bawaan kami, namun sudah terlanjur turun, masa tidak diteruskan sampai bawah? Jadi dengan penuh perjuangan, dan kaki-kaki yang bergetar menahan beban berlipat ganda,  kami terus menuruni anak tangga sampai yang terakhir.

Rangkaian tangga ini benar-benar membawa kami sampai dasar kawah, yah setidaknya sampai permukaan air danau yang berada di kawahnya, namun kami tidak sampai mencapai permukaan air danau tersebut. Kami memutuskan untuk duduk-duduk saja, menikmati pemandangan kehijauan yang tersaji di dasar kawah, kesunyian dan sejuknya udara di Gunung Galunggung yang tidak bisa didapatkan di tempat kerja kami, terutama Ary yang bekerja di Jakarta, yang penuh dengan polusi, baik polusi udara, maupun polusi suara. Disini juga kami akhirnya mulai berbagi cerita masing-masing, keluh kesah tentang kerjaan yang melelahkan, jodoh yang tak kunjung terlihat maupun rencana kami ke depannya masing-masing.

Galunggung 70718_180816_0010
Dok : Aryanto Wijaya
DSCF2011
Dok : Dokumentasi Pribadi, akan di upload di @davidoff_photo
DSCF2014
Dok : Dokumentasi Pribadi

Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk kembali naik. Aku teringat ada beberapa warung di atas, kamipun memutuskan untuk naik dan menyantap makanan yang ada di warung. Maklum, semua anak tangga ini membuat bubur yang kami santap pada pagi harinya sudah tidak terasa lagi. Perlahan namun ngos-ngosan, kami kembali ke bibir kaldera dan menuju warung-warung yang ada. Terlihat sudah mulai banyak pengunjung, bahkan beberapa sepertinya rombongan dari luar kota dan terlihat memakai baju yang seragam.

Mie rebus, gorengan dan teh manis hangat menandai akhir perjalanan kami. Seusai menyantap hidangan sederhana di warung yang ada, aku dan Ary, perlahan namun bergetar,  kembali menuruni tangga kuning menuju parkiran motor. Kami kembali berboncengan, menuju kota Tasikmalaya untuk bermalam disana, sebelum esok paginya kembali ke kenyataan. Back to the reality…

DSCF2020
Pemandangan dari atas Gunung Galunggung
Galunggung 70718_180816_0008
Sampai jumpa di cerita berikutnya! Dok : Aryanto Wijaya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s