Liburan Singkat di Negeri Laskar Pelangi, Belitung- 1st Day

Awal Februari 2018, aku merencanakan untuk pergi ke Belitung, ke negeri Laskar Pelangi, dan pada 5 Mei 2018 ini, aku merealisasikan rencana tersebut…

Sebelum memulai ceritaku, ada baiknya aku memberi sedikit saran. Jika para pembaca disini berencana untuk pergi ke Belitung dengan menggunakan pesawat, maka pastikan untuk memperhatikan pengumuman-pengumuman di bandara untuk tujuan Tanjung Pandan, jangan menunggu pengumuman untuk Belitung ya, karena bandaranya terletak di kota Tanjung Pandan.

Sampai di Belitung

Pertama kali sampai di Belitung, aku dan rombongan langsung dijemput dan dibawa untuk sarapan di Mie Atep Belitung. Katanya sih ini adalah mie paling terkenal di Belitung, jadi wajib makan mie disini kalau pergi ke Belitung.

20180505_095439
Mie Atep

Sebenarnya mie yang dihidangkan mirip dengan mie kuah, namun kuahnya yang membuat berbeda. Kuahnya dibuat dengan sari udang, namun anehnya aku tidak merasakan gejala alergi ketika memakannya (aku memiliki alergi terhadap seafood) dan rasanya ternyata lumayan lezat, recommended bagi anda-anda yang mau ke Belitung dan mau kulineran disana.

3297
Dan juga, baru kali ini aku memakan mie bersama dengan emping. Foto oleh Mariska Regina

Vihara Dewi Kwan Im

Tujuan selanjutnya adalah menuju Vihara Dewi Kwan Im di daerah Burong Mandi. Disana ada patung Dewi Kwan Im yang cukup tinggi, tapi sepertinya masih kalah besar dengan yang ada di Batam. Vihara ini juga sudah lama berdiri, sejak sekitar 2,5 abad yang lalu. Konon katanya, dahulu kala ada seseorang yang menemukan patung Dewi Kwan Im di pantai Burung Mandi, dan seseorang tersebut selalu bermimpi tentang Dewi Kwan Im yang ingin dibuatkan sebuah kuil. Setelah cerita penemuan patung itu tersebar, tidak berapa lama dibangunlah sebuah kuil Dewi Kwan Im tersebut.

DSCF1615
Patung Dewi Kwan Im di Vihara Dewi Kwan Im

Okay, next aku dan rombongan menuju Pantai Burung Mandi. Pantai ini sekaligus menjadi pantai pertama yang aku kunjungi semenjak sampai di Belitung.

Pantai Burung Mandi

Well, kalau boleh jujur, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari pantai ini, sama seperti pantai pada umumnya, namun yang menyenangkan adalah, pantai ini sepi! Entah karena memang ini bukan waktu yang umum untuk berlibur, tapi yang jelas pantai ini sepi, terlihat beberapa kapal nelayan yang bersandar di tepi pantai, sepertinya nelayan juga menjadi mata pencaharian utama bagi warga di sekitar pantai Burung Mandi ini.

DSCF1646
Pantai Tanjung Burung, foto oleh pemandunya. Kalau mau cek agen travelnya, boleh klik disini Indonesia Bucket List. Bukan promosi ya, ini sifatnya membantu pembaca, kalau-kalau ada yang mau liburan ke Belitung juga.

Selepas dari pantai Tanjung Burung, kami bergegas menuju tempat makan siang. Kami dihidangkan makanan yang namanya “Gangan”. Jadi Gangan ini adalah ikan, yang dimasak kuah. Sayangnya saya lupa mendokumentasikan Gangan ini, jadi diingat-ingat saja ya nama makanannya. Rasanya enak kok, lebih memorable ketimbang mie Atep yang jadi sarapanku. Katanya sih memang makanan khas Belitung.

Next stop…Kampung Ahok.

Kampung Ahok

Okay, jadi sebelum para pembaca budiman membayangkan tempat ini sebagai kampung yang dipenuhi oleh aksesoris, ornamen atau hal-hal apapun yang berhubungan dengan pak Ahok, para pembaca setengah benar, karena memang Kampung Ahok ini dipenuhi gambar, foto, spanduk, baju, lukisan yang semuanya bertemakan pak Ahok, tapi bukan kampung. Kalau menurutku sih lebih mirip museum.

D1-Belitung 5 Mei 18_180513_0099
Rombongan Open Trip yang kuikuti. Foto by pemandunya di Kampoeng Ahok.
20180505_162902
Penulis untung sempat foto sendiri. Foto by Mariska Regina

Jadi ceritanya, Kampoeng Ahok ini didirikan oleh adiknya Pak Basuki Tjahaya Purnama (Pak Ahok), yaitu Pak Basuri, sebagai apresiasi terhadap jasa-jasa Pak Ahok. Kampoeng Ahok ini sendiri dibangun tepat berseberangan dengan kediaman Pak Ahok di Belitung. Didalamnya banyak sekali lukisan-lukisan bertemakan Pak Ahok (termasuk Pak Ahok dengan ikan Nemo), dan aksesoris-aksesoris lain yang bertemakan Pak Ahok, kalau mau tahu isi didalamnya, kusarankan untuk pergi kesini saja ya, soalnya tidak kudokumentasikan bagian dalamnya.

Selanjutnya aku menyebrang ke kediaman Pak Ahok, namun sayangnya kediaman tersebut kosong, jadi tidak bisa berkunjung kedalamnya. Tapi tepat disebelahnya ada Galeri Daun Simpor kalau mau berkunjung kesana.

DSCF1654
Kediaman Pak Ahok
DSCF1658
Galeri Daun Simpor, sama sih isinya, seperti toko oleh-oleh. Tapi disebelahnya ada kandang kuda poni dan keledai, penampakannya di bawah ya.

Untuk daun simpor sendiri, katanya daun simpor ini hanya tumbuh di Belitung dan dipakai untuk menyajikan makanan, kalau tidak salah ingat, waktu di mie Atep sih, mie nya juga awalnya dimasak dengan dibungkus daun simpor ini.

DSCF1655
Ini lah daun simpor tersebut, katanya hanya tumbuh di Belitung, jadi ini adalah tanaman khas Belitung.

Hari semakin sore, akhirnya kamipun bergegas menuju Museum Kata Andrea Hirata.

Museum Kata Andrea Hirata

So, pembaca pasti tahu kan siapa Andrea Hirata?Yak beliau adalah penulis cerita Laskar Pelangi yang terkenal itu loh. Namun sayangnya, saat kami berkunjung kesana, Museum Kata ini sudah tutup, mungkin ini menjadi isyarat dari Belitung kalau kami harus kembali lagi ke Belitung suatu hari nanti. Tapi lumayanlah, bagian luarnya bagus kok untuk mengisi feed Instagram, kita sebagai generasi millenial wajib update Instagram kan?

 

20180505_172118
Tampak Depan Museum kata Andrea Hirata, next time harus datang pas masih buka.

Hari yang semakin gelap, membuat kami harus bergegas menuju lokasi berikutnya. Kamipun segera naik bus dan melanjutkan perjalanan kami.

Replika Sekolah Laskar Pelangi

Ingatkan di cerita Laskar Pelangi berfokus pada murid-murid SD Muhammadiyah di Belitung?Nah, untuk mengenang SD tersebut, dibuatlah replika SD Muhammadiyah, yang tentunya juga menjadi objek wisata yang menarik bagi para wisatawan. Pada dasarnya tidak ada yang menarik-menarik banget sih dari replika sekolah ini, tapi mengingat sejarahya, memang replika ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi yang datang ke Belitung, sekalian diajak yang anaknya yang sekolah di sekolah elit, supaya terbuka matanya bahwa masih banyak juga didaerah lain di Indonesia yang anak-anaknya punya semangat belajar tinggi, tapi fasilitas sekolahnya pas-pasan seperti di replika ini.

Puas berfoto di replika sekolah ini, aku dan rombongan kembali ke bus untuk menuju lokasi perhentian terakhir kami pada hari ini, yaitu Dermaga Kirana atau biasa juga di sebut Rumah Keong.

Dermaga Kirana a.k.a Rumah Keong

Jadi menurut cerita dari pemandu kami, sebenarnya Rumah Keong ini tidak ada hubungan apa-apa sama kisah Laskar Pelangi. Namun ada seseorang yang melihat kalau Belitung ini mulai ramai dikunjungi, jadilah orang tersebut membangun Rumah Keong ini, tujuannya untuk menambah destinasi wisata Belitung, jadi orang-orang makin banyak yang datang ke Belitung. Well sekali lagi, untuk kalian para generasi millenial, tempatnya emang bagus untuk menambah feed Instagram kalian ataupun sosial media yang lain, jadi tempat ini juga tempat yang wajib didatangi kalau main ke Belitung ya!

Dermaga Kirana ini juga jadi tempat terakhir untuk hari pertamaku dan rombongan di Belitung. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah tempat makan malam. Bertempat di Rumah Makan Belitong Timpo Duluk, aku dan rombongan belajar adat makan ala Belitung, yaitu Bedulang.

Rumah Makan Belitong Timpo Duluk

Seperti yang sudah dituliskan di atas, aku dan rombongan menuju Rumah Makan Belitong Timpo Duluk, dan sesuai namanya, interior di dalamnya memang banyak barang-barang dari jaman dahulu yang dijadikan pajangan, tapi sudah ada wi-fi kok. Oh ya, bicara soal wi-fi, sinyal di Belitung sedikit susah, yang cukup bagus hanyalah sinyal provider yang identik dengan warna merah dan juga yang berwarna biru-hijau, jadi sebaiknya persiapkan saja kalau ingin update-update di sosial media ya. Nah, di rumah makan inilah kami akan menyantap makan malam dengan adat Belitung, yaitu Bedulang.

Bedulang itu adalah cara makan ala Belitung, dimana makanan yang disajikan adalah makanan untuk dimakan berempat dan yang unik adalah untuk menyantap makanan ini, yang paling muda harus melayani yang lebih tua alias mengambilkan atau menghidangkan makanan untuk yang lebih tua. Ini unik dan menurutku pribadi mengajarkan kita untuk melayani dan menghormati yang lebih tua, misalnya kakak, om, tante atau orang tua kandung kita.

line_1525525679958
Menu Makanan Kami Malam itu, enak semua, recommended buat yang mau berkunjung ke Belitung.

Foto-foto diatas adalah penampakan Rumah Makan Belitong Timpo Duluk ya, yang ada di foto itu bukan pemiliknya, bukan , itu teman seperjalanan penulis, yang sudah sering baca tulisanku pasti kenal dan bagi yang mau lihat foto-foto pemandangan Belitung, sebagian hasil fotoku sudah ku-update di Davidoff_Photo , jadi berbaik hatilah sedikit dan cek hasilnya ya!

Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak di rumah makan, aku dan rombongan kembali ke bus dan menuju penginapan. Hari pertama di Belitung sudah berakhir (dengan cepat). Nantikan kelanjutan perjalananku di Belitung di hari kedua ya, cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s