Menikmati Udara Dingin Gunung Papandayan, Gunung yang “Cocok” untuk Pendaki Pemula

Akhir bulan Februari 2018 kemarin, aku berpartisipasi dalam salah satu rangkaian acara ulang tahun tempatku bekerja, yaitu PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. yang ke 58. Acara yang kuikuti adalah “Adhi Goes to Papandayan”, dimana acara ini aku dan sesama partisipan lainnya melakukan hiking di Gunung Papandayan, Garut.

 

Akhirnya aku mendapat bahan untuk menulis lagi setelah selama kurang lebih satu bulan aku vakum menulis. Sebenarnya gap selama 1 bulan itu termasuk cukup cepat sih ketimbang biasanya, dan kali ini aku akan menuliskan perjalananku mendaki gunung Papandayan (mendaki ya, gak sama lewati lembah, Ninja Hattori nanti jadinya).

Awal Pendakian

Sebenarnya aku memulai perjalanan kali ini dengan menaiki bus dari kantor pusat menuju Garut, namun aku tak perlu menuliskannya disini ya, toh hanya perjalanan selama kurang lebih 7-8 jam kalau tak salah, dari Jakarta menuju Garut. So, aku mulai saja dengan titik awal pendakiannya.

Untuk mencapai titik awal pendakian, kendaraan umum hanya bisa mengantar kita sampai ke alun-alun Cisurupan, sedangkan untuk menuju ke titik awal pendakian Gunung Papandayan, bisa menggunakan ojek atau mobil pick-up dari alun-alun Cisurupan, tapi kalau mau gak ribet, pakai kendaraan pribadi mungkin lebih nyaman. Untuk yang membawa kendaraan pribadi, tenang saja parkirannya cukup luas kok, dan menurutku pribadi sih cukup aman, karena banyak yang berjualan disana, jadi pasti ada yang mengawasi.

20180224_085117
Titik Awal Pendakian Gunung Papandayan

Aku dan rombongan akhirnya memulai pendakian sekitar pukul 09.00 pagi, kebetulan aku mendapat kelompok jalan pertama, hal yang nantinya sangat aku syukuri dalam hati. Pendakian dimulai dengan memasuki jalur yang sudah di aspal, barulah setelah beberapa saat, jalurnya berubah menjadi jalur bebatuan dan tanah, memang menurutku pribadi sih, jalurnya cukup mudah dan landai, namun memang dasarnya saja jarang olahraga, tetap saja melelahkan rasanya.

Menurut ketua panitia dan juga pemandu dari kelompokku, mendaki gunung Papandayan dari titik awal hingga area perkemahan pondok Saladah sebenarnya cukup dengan waktu 1,5 hingga 2 jam, namun karena banyak dari kami yang berhenti untuk berfoto dan beristirahat membuat perjalanan sedikit lebih lama. Oh ya, jalurnya kurang lebih akan seperti foto di atas sampai di pos 7. Selama pendakian, aku berpapasan dengan beberapa penduduk sekitar yang naik dengan menggunakan motor, kalau menurut cerita pemandu kami, memang penduduk disini sebagian memiliki kebun-kebun di sini, sehingga setiap hari mereka harus naik turun gunung menggunakan motor.

20180224_094713
Pos 7 jalur pendakian Gunung Papandayan

Sesampainya di pos 7, aku dan rombongan beristirahat sebentar, sambil mencoba mengatur ulang nafasku sendiri. Selang beberapa waktu, kelompokku memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Dari pos 7, jalurnya akan sedikit berubah, termasuk adanya jalur-jalur yang melewati hutan dan jalur-jalur yang sedikit curam, sedikit aja kok…

 

Pondok Saladah

Kurang lebih pukul 12.30, kelompokku sampai di area perkemahan Pondok Saladah, jadi kurang lebih kami memakan waktu sekitar 3,5 jam, dan karena kelompokku adalah kelompok pertama, jadi kami termasuk yang sampai pertama di Pondok Saladah, dan hal yang membuatku mensyukurinya adalah kenyataan bahwa sekitar pukul 13.30 hujan mulai turun, sedangkan kelompok-kelompok yang mulai belakangan baru sampai sekitar pukul 14.00.

20180224_113909
Area Perkemahan Pondok Saladah

Oh ya, untuk yang berencana mendaki ke Papandayan, di area perkemahan Pondok Saladah ini cukup lengkap kok, ada warung makan, ada kamar mandi juga lengkap dengan airnya, tapi ya dengan suhu yang cukup dingin, airnya juga akan terasa seperti air es. Sedangkan untuk makanannya, karena kebetulan aku tidak tertarik untuk membeli makanan di warung, jadi aku kurang paham mengenai harganya, tapi yang jelas sih ada warung, jadi buat yang nggak bawa makanan, mungkin bisa membelinya di warung-warung tersebut, dan satu lagi, Gn. Papandayan itu masih aktif, jadi selama pendakian, kita bakal senantiasa mencium aroma bau belerang, jadi buat yang gak tahan sama baunya, mungkin bisa pakai masker atau buff.

Usai makan siang, mengingat cuaca yang masih hujan rintik-rintik, ketua panitia akhirnya menawarkan kepada peserta untuk naik ke Tegal Alun hari ini atau besok subuhnya, peserta di beri kebebasan untuk memilih. Aku memutuskan untuk ikut naik ke Tegal Alun pada hari ini, karena pikirku sekalian saja naik, biar sekalian capek, jadi nanti malam tidurku bisa nyenyak.

Tegal Alun, Wilayah Konservasi Edelweiss di Gunung Papandayan

Pukul 15.00, rombongan yang memilih untuk naik ke Tegal Alun mulai melanjutkan pendakian ke Tegal Alun, dalam perjalanan, aku melewati Hutan Mati, salah satu daya tarik Gunung Papandayan. Sayangnya saat itu sedang hujan dan berkabut sehingga jarak pandang agak terbatas.

20180224_153431
Hutan Mati, tenang nanti di bawah akan ada foto yang menunjukkan keseluruhan Hutan Mati ini.

Setelah melewati hutan mati, jalur yang akan dilewati untuk mencapai Tegal Alun cukup menantang bagi pemula sepertiku, di tambah keadaan sehabis hujan, membuat jalur yang kami lewati cukup licin, dan di detik-detik akhir menuju Tegal Alun, jalur pendakian cukup curam, sehingga akupun harus setengah memanjat untuk mencapai Tegal Alun, but hey, itu salah satu bagian yang harus dinikmati kan? Tapi akibatnya, aku mengurungkan niatku untuk mengambil foto, aku terlalu lelah untuk mengambil foto.

Setelah sekitar 1,5 jam (aku agak lupa berapa lama, lagipula aku banyak istirahatnya :p) mendaki, aku dan rombongan sampai di Tegal Alun. Tegal Alun ini lah wilayah konservasi Edelweiss.

20180224_165443

20180224_161850
Tegal Alun

Di Tegal Alun, aku dan rombongan berfoto, dengan membawa bendera unit kerja/departemen masing-masing. Yah, aku juga memilih untuk menikmati pemandangan yang ada, dan aku terlalu lelah untuk berfoto, haha..

Puas berfoto (sebenarnya tidak puas sih, tapi karena hari sudah semakin gelap, ketua panita menginstruksikan kami untuk turun kembali ke Pondok Saladah), aku dan rombongan kembali ke Pondok Saladah untuk makan malam dan beristirahat, perjalanan turun lebih mendebarkan, takut kepleset karena jalurnya masih licin.

20180224_170824
Jalur dari dan menuju Tegal Alun

Sesampainya di Pondok Saladah, aku beristirahat sejenak, memberikan istirahat pada kedua kakiku yang biasanya hanya digunakan untuk menopang tubuhku saat berkegiatan sehari-hari, namun pada saat mendaki kedua kakiku bergetar, karena digunakan untuk kegiatan yang tidak biasanya, namun sepertinya juga karena udara dingin yang mulai menusuk tulang, tapi…. aku memutuskan untuk mandi dan percayalah, rasanya segar kok , meskipun guyuran pertama rasanya sangat luar biasa, LUAR BIASA DINGINNNNN.

Seusai beristirahat, kegiatan kami dilanjutkan dengan bermain games, dipandu oleh panitia, kami memainkan beberapa game, sesaat melupakan lelah dan stress kami karena pekerjaan, namun karena kembali turun hujan, kegiatanpun terpaksa di hentikan, dan ketua panitia sekali lagi menawarkan kepada kami untuk kembali ke Hutan Mati pada pukul 05.00 pagi untuk mengejar sunrise, yang sayangnya aku tidak ikut serta karena merasa terlalu lelah. Tapi kalian yang berencana mendaki Gn. Papandayan, kusarankan tetap mengejar sunrise di Hutan Mati, sayang rasanya, aku saja sedikit menyesal.

Paginya, setelah sebagian peserta selesai mengejar sunrise di Hutan Mati, kami melakukan sarapan bersama-sama, dan setelahnya membereskan area perkemahan, ingat, bawa kembali semua sampah yang kita hasilkan selama mendaki ya, kita harus menjaga kelestarian alam yang ada dan jangan mengotorinya dengan sampah, sayangkan pemandangan indah di gunung kalau kita rusak dengan sampah.

IMG_20180226_174012_843
Pengalaman baru, teman baru.

Kembali ke Titik Awal Pendakian, Perjalanan Menuruni Gunung Papandayan

Perjalanan menuruni Gunung Papandayan kami lewati dengan menggunakan jalur yang berbeda, jika pada saat mendaki kami menggunakan jalur yang biasa, maka saat turun kami menggunakan jalur yang melewati Hutan Mati. And here it is, The Dead Forest….

20180225_100809
Hutan Mati

Usai menikmati keindahan Hutan Mati (dan tentu saja berfoto disana), aku melanjutkan perjalanan turun. Ternyata, jalur Hutan Mati ini lebih nyaman, selain karena lebih dekat, juga jalur ini sudah dibuatkan tangga-tangga alami dengan menggunakan batu, jadi buat kalian yang mau mendaki Gunung Papandayan, bisa memilih untuk menggunakan jalur biasa atau melewati jalur Hutan Mati.

20180225_101739
Kondisi Jalur Pendakian lewat Hutan Mati

Dari jalur Hutan Mati ini, pada akhirnya akan membawa kita menuju jalur pendakian yang biasa, dua jalur ini akan bertemu di Pos 7. Jadi, pada saat mendaki Gunung Papandayan, setelah mencapai pos 7, kita bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan lewat jalur biasa atau jalur Hutan Mati.

20180225_103613
Kelompok Jalan 1+Pemandu kami yang berbaju biru
20180225_103741
Kelompok jalan 1, btw sebagian dar kami baru kenal satu sama lain saat mendaki Gunung Papandayan.

Setelah perjalanan menuruni Gunung Papandayan yang tidak terlalu melelahkan seperti pada saat mendaki, akhirnya kamipun sampai di titik awal pendakian. Overall, pendakian Gunung Papandayan memang sepertinya cocok untuk pemula, aku yang kebetulan pemula dan kurang persiapan fisik saja masih sanggup untuk menyelesaikan pendakian, meskipun ternyata tidak sampai puncak gunungnya (Pertimbangan ketua panitia, jalur ke puncak Papandayan masih terlalu dini bagi kami yang pemula dan kurang persiapan fisik, karena jalurnya lebih ekstrim daripada jalur menuju Tegal Alun, and that’s fair enough for me). Fasilitas di area perkemahan juga cukup lengkap, ada kamar mandi dan air (this is the most important thing!), juga ada warung kalau-kalau gak mau ribet bawa peralatan masak.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama, pembagian hadiah games, dan akhirnya, kami kembali ke Jakarta, dan bersamaan dengan Adhi Karya yang Back to be the Best, aku dan peserta lain harus Back to Reality. Well, it was fun while it last, so, Happy 58th Birthday Adhi Karya!

20180225_111243
Gerbang Masuk Gunung Papandayan dan foto bersama seusai menyelesaikan pendakian
IMG_0142
Sampai ketemu lagi!

Nb : Sebagian foto merupakan foto hasil jepretan penulis, namun sebagian, terutama foto dimana ada penulis disitu dan foto-foto beramai-ramai, adalah hasil jepretan milik tim dokumentasi dari panitia, maupun jepretan orang tidak dikenal yang berhasil penulis dan teman-temannya kelabui untuk mengambil foto penulis dan teman-temannya, so buat yang merasa fotonya dipakai di tulisan ini, penulis mengucapkan terima kasih, dan maaf berhubung penulis kurang paham siapa yang mengambil foto-foto ini, jadi penulis tidak mencantumkan nama kalian, Cheers!

5 thoughts on “Menikmati Udara Dingin Gunung Papandayan, Gunung yang “Cocok” untuk Pendaki Pemula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s