A Journey to Lombok-Last Day

LAST DAY! Bersamaan dengan tersadarnya aku dari tidur malamku di pagi hari pada 30 Juni 2017, aku akan menjalani hari terakhir rangkaian liburan Bali-Lombok ku pada hari ini.

Membuka hari dengan menyadari bahwa ini adalah hari terakhirku berlibur di Lombok, membuat ku sedikit malas, mengingat itu artinya aku harus kembali bekerja dalam waktu dekat! Tapi apa boleh buat, nothing last forever, so here it is, my last day in Lombok!

Dusun Sasak Sade-Desa Suku Sasak, Suku Asli Penghuni Lombok

Bali H_170711_0006.jpg
Pintu masuk Desa Adat Suku Sasak

Usai sarapan di penginapan, aku dan rombongan langsung tancap gas menuju Desa Suku Sasak di daerah Rembitan, Lombok. Sesampainya di sana, kami langsung di sambut oleh salah satu pemandu yang ada di sana yang juga tinggal di Desa Suku Sasak tersebut. Dijelaskan bahwa Suku Sasak adalah suku asli penghuni Lombok alias orang asli Pulau Lombok, sehingga boleh dikatakan bahwa semua orang Lombok adalah keturunan dari Suku Sasak.

Setelah mendengarkan sedikit penjelasan mengenai Suku Sasak, tour kamipun dimulai dengan mengelilingi Desa Sade tersebut. Oh ya, diceritakan juga bahwa Suku Sasak ini boleh dikatakan semuany memiliki hubungan keluarga lho, karena mereka memperbolehkan pernikahan antar sepupu. Salah satu sebabnya adalah, pernikahan dengan sepupu itu berarti menikah dengan orang sekampung, sehingga mahar pernikahannya tidak begitu mahal, sedangkan jika menikah dengan orang dari kampung tetangga, maka mahar pernikahannya bisa sangat mahal.

Ada adat atau tradisi yang unik dalam pernikahan Suku Sasak, yaitu bahwa sebelum acara lamaran, calon pria harus melakukan “penculikan” terhadap calon mempelai wanita dan kemudian menyembunyikannya ditempat kerabat calon mempelai laki-laki. Untuk dicatat, penculikan ini dilakukan bersama dengan kerabat dan orang tua pihak perempuan tidak boleh diberi tahu, baru setelah sehari semalam calon mempelai perempuan menginap di tempat kerabat calon mempelai laki-laki, pihak kerabat laki-laki akan mengirim utusan ke rumah keluarga perempuan untuk memberitahukan bahwa anak perempuan mereka diculik, tapi tempatnya tetap dirahasiakan. Orang tua laki-laki pun tidak diperbolehkan ikut rombongan yang memberi tahu kepada keluarga perempuan bahwa anak mereka diculik. Okee, lanjut ke tour di Desa Sasak ini ya..

Orang-orang suku Sasak di Desa Sade masih tinggal di rumah adat tradisional Suku Sasak. Atap rumah adat tradisional menggunakan jerami, sedangkan lantainya berupa campuran tanah dengan batu bata, abu jerami dan getah pohon. Kebiasaan unik suku Sasak salah satunya adalah kebiasan melumuri lantai rumah mereka dengan kotoran sapi. Hal ini dilakukan supaya lantai tidak mudah retak dan lembab, tapi ketika aku mengunjungi salah satu rumah disana, tidak terlalu tercium bau kotoran sapi.

DSCF0852.JPG
Rumah Adat Tradisional Suku Sasak
Bali H_170711_0007.jpg
Lumbung Padi di Desa Adat Suku Sasak

Setelah tour yang cukup singkat dengan pemandu kami, kamipun segera beranjak menuju Tanjung Aan, ah…pantai lagi.

Tanjung Aan

Terletak di Kuta, Pujut, Lombok Tengah…Inilah pemandangan di Tanjung Aan.

DSCF0872
Tanjung Aan, masih sepi dan indah sih, tapi…

Berangkat dari Desa Sasak, kami sampai di Tanjung Aan, harus kuakui, memang Tanjung Aan ini menawarkan pemandangan yang cukup indah, dan kondisi pantai yang sepi dari pengunjung menambah kesenanganku pada tempat ini, maklum, aku bukanlah orang yang senang berada di tengah-tengah keramaian, sekumpulan manusia yang bergerombol dan berbicara adalah satu dari sekian banyak hal yang bisa mengusik emosiku, jadi tempat yang sepi adalah salah satu tempat favoritku.

Namun sayang seribu sayang, kunjungan kami ke Tanjung Aan sedikit terganggu dengan orang-orang disana, yang menawarkan barang dagangan dan juga jasa untuk menyebrangi laut menuju tempat wisata di seberang pantai, yang jadi menyebalkan adalah mereka tanpa lelah menawarkan dagangannya bahkan ketika aku dan rombongan sudah bilang tidak.

Aku dan rombongan akhirnya memutuskan untuk menyewa kapal untuk menyebrang, dan kapal yang digunakan jauh lebih kecil daripada yang kami sewa di Pantai Pink, bayangkan, lebar kapalnya hanya cukup untuk satu orang! Aku sarankan jangan duduk paling depan, kecuali bawa baju ganti, karena pasti akan basah!

DSCF0886.JPG
Kapal sewaan di Tanjung Aan, untuk perjalanan pulang pergi memakan biaya sekitar Rp 300.000 s/d Rp 350.000.

Lalu ada apa di sebrang pantai sana?Ada penjual kelapa muda! Haha, ya, ketimbang membiarkan kami menikmati pemandangan disana, yang ada malah kami diganggu dengan tawaran kelapa muda seharga Rp 25.000,-, entah ada berapa banyak penjual kelapa muda disana, dan jujur saja, aku merasa cukup terganggu, well, I come here to see the sea, the nature, jadi gangguan seperti ini sangat menyebalkan, tapi yah mungkin mereka hanya mencari rejeki, dengan terlalu gigih.

DSCF0879.JPG
Batu Pandang, ini yang menjadi obyek wisata “di sebrang pantai Tanjung Aan”
DSCF0881.JPG
Dan pemandangan laut lepasnya, ombaknya memang besar sih…

Setelah bertahan dari “gempuran” kegigihan para penjual kelapa disana, akhirnya papaku membeli dua buah kelapa, dengan harapan para penjual yang lainnya akan berhenti menawarkan kelapa mereka, namun yang terjadi malah sebaliknya, penjual kelapa yang lain malah mengerumuni aku dan rombongan dengan menyodorkan kelapa dan golok terhunus, siap membelah kelapanya, to be honest, that’s a creepy experience haha.

Next, Pantai Kuta!

Pantai Kuta Mandalika

Pantai Kuta?Di Lombok? Yap! Benar sekali, ada pantai Kuta di Lombok, jadi pantai Kuta tidak hanya di Bali saja, tetapi ada juga di Lombok ya! Pantai Kuta ini sendiri sangat dekat letaknya dengan Tanjung Aan, bahkan sebenarnya kalau kita menuju Tanjung Aan, maka kita akan melewati pantai ini.

DSCF0868.JPG

Keistimewaannya pantai ini adalah pasirnya yang berbutir sedikit lebih besar dari pasir biasanya dan berbentuk bulat-bulat. Tidak kufoto biar penasaran yaaa, haha dan tentu saja selalu ada titik foto yang menjadi daya tarik suatu tempat wisata, karena generasi millenial tidak akan mampu bertahan hidup tanpa posting foto di media sosial, jadi tempat wisata sekarang harus memiliki titik foto yang menarik!

Tempat inipun sebenarnya tidak lepas dari pedagang-pedagang “gigih” tadi, namun kebanyakan yang berjualan disini adalah anak-anak kecil, namun memang titik foto ini bisa menjadi tempat foto yang bagus sih…

DSCF0902
Well, menurut saya ini salah satu background foto yang superb, andai saja sepi kala saya mengunjunginya…
DSCF0905
Ini masih bagian dari Pantai Kuta juga…

Puas berfoto, dan menikmati paparan cahaya matahari, kami akhirnya memilih untuk bersantai sejenak di restauran hotel di dekat Pantai Kuta, sambil menenggak minuman yang kami pesan, mengistirahatkan kaki-kaki kami yang lelah setelah berkeliling Pantai Kuta. Sedang tour guide kami beristirahat di mobil, aku dan rombongan mengobrol panjang lebar soal liburan kami kali ini, sambil berangan-angan akan kemana kami di liburan berikutnya. Tentunya sambil mengingat bahwa esok hari kami harus pulang, kembali ke tempat kerja kami masing-masing, dan matahari yang mulai terbenam mengingatkan kami untuk kembali ke penginapan.

Jadi….kapan ke Lombok?

IMG-5079

-D-

2 thoughts on “A Journey to Lombok-Last Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s