Berkunjung ke Pulau Dewata Bali : Destinasi Wisata yang tak Pernah Kehabisan Daya Tariknya-Day 3

Hari ketiga rombongan saya di Bali, dari pemandangan pantai dan laut lepas di hari pertama dan kedua, berubah menjadi pemandangan Gunung Batur di daerah Kintamani…

Pada hari ketiga ini kami menuju daerah Kintamani untuk melihat pemandangan kaldera Gunung Batur dari kejauhan, namun sebelum menuju kesana, kami berhenti sebentar melihat keramaian di daerah Ubud, tepatnya di Puri Saren dan Pasar Ubud.

Puri Saren Agung (Ubud Palace)

Menyusuri jalan yang cukup sempit dan dipenuhi penginapan-penginapan untuk backpacker dan toko oleh-oleh di pinggirnya, sampailah kami ke Puri Saren, dilihat dari luar, tempatnya tidak begitu luas, namun sesudah masuk, ada area-area tertentu yang tidak bisa di masuki oleh turis. Tidak banyak yang bisa dilihat disini, karena tidak seperti tempat-tempat wisata di tulisan saya sebelumnya (baca : Berkunjung ke Pulau Dewata Bali : Destinasi Wisata yang tak Pernah Kehilangan Daya Tariknya-Day 1 dan Berkunjung ke Pulau Dewata Bali : Destinasi Wisata yang tak Pernah Kehilangan Daya Tariknya-Day 2) Puri Saren Agung terletak di tengah pemukiman sehingga tidak ada langit biru dan laut untuk dipandang.

DSCF0413.JPG

Ketika saya memasuki area di dalamnya, kebetulan ada anak-anak yang sedang latihan menari, entah itu tari apa (mungkin visitor saya ada yang berkenan mengkoreksi saya? :D) namun sepertinya tari untuk laki-laki, karena semua yang dilatih adalah anak laki-laki (termasuk yang melatih).

DSCF0415
Anak-anak sedang berlatih tari di dalam area Puri Saren.

Melihat anak-anak yang masih kecil ini berlatih tari, saya kagum pada mereka, karena kebanyakan anak-anak sekarang tidak mau tahu lagi soal kebudayaan daerah mereka masing-masing, baik itu musik tradisionalnya, atau tari tradisional daerah asal masing-masing. Jangankan kesenian tradisional, lagu-lagu nasional saja belum tentu hapal (Jangan sampai anak-anak muda melongo ketika diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi langsung menyanyi ketika diminta menyanyikan lagu Despacito-nya Luis Fonsi, Daddy Yankee dan Justin Bieber).

DSCF0418
Masih di Puri Saren Agung, ada sekelompok anak lain yang kelihatannya lebih muda dari yang sebelumnya sedang bertaltih tari.

Pasar Ubud

Beranjak dari Puri Saren Agung, kami menuju Pasar Ubud dengan berjalan kaki. Jangan bayangkan Pasar Ubud seperti pasar yang menjual kebutuhan rumah tangga dan dapur, Pasar Ubud adalah pasar seni, yang menjual barang-barang hasil kerajinan tangan yang bisa di bawa sebagai oleh-oleh.

DSCF0424
Pasar Ubud, berbagai macam barang dijual disini, mulai dari tas-tas, baju dan kerajinan lain yang bernuansa Bali tentunya.

Namun bagi anda yang berencana mendatangi Pasar Ubud dengan menggunakan mobil, bersiap-siap untuk mencari parkiran, karena tempat parkir di Pasar Ubud sangat terbatas, mungkin lebih mudah dengan menggunakan motor.

 

DSCF0425
Salah satu penjual di kawasan Pasar Ubud, kalau dulu para penjual saling berbincang-bincang sembari menunggu pembeli, sekarang sudah ada teknologi berupa smartphone.

Puas melihat-lihat Pasar Ubud, saya dan rombongan langsung menuju Kintamani untuk makan siang sambil melihat Gunung Batur.

Kintamani-Memandang Gunung Batur dari Kejauhan

Jalan menuju Kintamani mengingatkan saya akan jalan menuju tempat KKN saya dulu (Kuliah Kerja Nyata ya, bukan Korupsi Kolusi Nepotisme yang hobinya orang-orang itulah :p) di daerah Samigaluh, di provinsi yang saya jadikan rumah kedua saya yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalannya menanjak dan berkelok-kelok namun disuguhi dengan pemandangan yang juga indah, udara yang berangsur-angsur dingin juga menyegarkan, sejenak membuat saya terlupa akan udara panas dan pengap di perkotaan.

Sampai di tempat makan, kami langsung menuju meja yang kosong, maklum, sudah jam makan siang dan bus-bus pariwisata sudah berdatangan, daripada tidak kebagian meja, kami langsung saja bergegas menuju meja yang kosong, foto-foto bisa menanti, toh Gunung Batur-nya diam saja kok tidak akan berpindah tempat. Oh ya, kalau memilih tempat makan di sini, pastikan tempat makannya bisa melihat pemandangan Gunung Batur ya, jadi pastikan dulu posisi gunungnya, baru cari tempat makannya, ya itu kalau anda mau berfoto seperti ini :

20170702_170703_0046
Foto dari tempat makan yang saya datangi, ngomong-ngomong ini sepupu-sepupu saya dengan pemandangan Gunung Batur di belakangnya. (Sekali ini fotonya boleh nyomot dari hasil jepretan Papa saya)
IMG_5095
Mau foto berdua seperti ini dengan pemandangan Gunung Batur?Datanglah ke Bali.

Kedai Kopi Oka-Menikmati Secangkir Kopi Luwak Seharga 50 Ribu

Kenyang makan dan puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Udara dingin membuat kami ingin mencari yang hangat-hangat, sehingga mobil pun kami arahkan menuju salah satu kedai Kopi Luwak, yaitu Kedai Kopi Oka.

Sampai di Kedai Kopi Oka, kami langsung di sambut salah seorang pegawainya dan ia pun menjelaskan berbagai jenis biji kopi yang ada disana, saya tidak begitu ingat ada berapa jenisnya namun yang dari penjelasannya setiap biji kopi memiliki manfaat yang baik untuk tubuh, anda juga bisa berfoto dengan gaya sedang memasak bijih kopi disini.

IMG_4717
Ini papa saya sedang bergaya memasak bijih kopi..Nnggg yang disebelahnya bukan mama saya ya, itu si ibu yang tadinya lagi masak bijih kopinya.

Setelah dijelaskan, kami langsung diantar kemeja yang kosong, dan disuguhkan sample dari produk-produk kopi yang ada disana, ada 12 macam kalau tidak salah, kebanyakan khasiatnya seperti menurunkan kolesterol, darah tinggi ada juga yang untuk diet, tapi yang saya pesan adalah Kopi Luwaknya yang seharga  Rp 50.000,- secangkirnya.

DSCF0451
Kopi Luwak seharga 50 ribu, saya foto dari samping soalnya sudah habis, sebelum diminum lupa di foto.

Kalau berkunjung kesini, bagi anda yang bukan penikmat kopi tapi pengejar jumlah “Like” di media sosial, ada spot foto yang menarik kok disini, jadi tenang saja, kalau gak mau ngopi, anda bisa berfoto disini.

DSCF0455
Foto dengan pemadangan hutan dibawahnya atau….
DSCF0453
Foto dengan aksesoris yang disediakan disana, btw itu akun instagramnya beneran ada kok kalau mau sekedar mengintip, bukan promosi ya~~

Tirta Empul-Tampaksiring

Selesai menenggak kopi luwak, kami melanjutkan perjalanan menuju Tirta Empul.

DSCF0465.JPG

Didirikan tahun 962  di sekitaran sumber air pada masa Dinasti Warmadewa, anda dapat menjalani ritual penyucian diri di Tirta Empul atau sekedar mengambil airnya untuk cuci muka. Dibagi menjadi 3 bagian, Jaba Pura (bagian depan), Jaba Tengah (bagian tengah) dan Jeroan (bagian dalam), di Jaba Tengah terdapat dua buah kolam yang memiliki 30 pancoran. 30 pancoran tersebut dinamakan berurutan dari Pengelukatan, Pembersihan, Sudamala dan Pancuran Cetik. Ketika saya datang, kebetulan banyak yang sedang menjalani ritual penyucian diri di kolam tersebut.

DSCF0467
Orang ramai sedang menjalani ritual penyucian diri. Setiap orang harus menyucikan diri melewati setiap pancoran yang ada.

Selain itu, dari Tirta Empul juga anda dapat melihat Istana Tampaksiring, namun sayangnya anda tidak dapat memasuki area Istana Tampaksiring tersebut.

DSCF0480
Terlihat Istana Tampaksiring dikejauhan dari dalam Pura Tirta Empul

Pusat Oleh-Oleh Krisna

Dari Tirta Empul, kami akhirnya mengakhiri perjalanan kami di hari ketiga di Bali dengan menuju Pusat Oleh-Oleh Krisna. Pusat oleh-oleh Krisna ini termasuk salah satu yang terbesar di Bali dan memiliki cukup banyak pilihan, mulai dari sekedar gantungan kunci, baju, sampai kepada oleh-oleh khas Bali yaitu Pie Susu dan Pia Legong, dan ketika kami datang, sangat banyak sekali turis-turis yang sedang berbelanja disana.

IMG_4718.JPG
Ini pasti rombongan suami-suami sedang menunggu istrinya berbelanja, sambil menghitung-hitung perkiraan sisa saldo setelah dari Krisna.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam disini, perut kami masing-masing rupanya minta diperhatikan, akhirnya sesudah membayar belanjaan kami, kami bergegas menuju tempat makan dan kemudian menuju hotel. Berakhir sudah perjalanan hari ketiga kami di Bali dan sembari menjatuhkan badan ke sofa empuk di kamar hotel, saya teringat akan udara dingin dan angin yang cukup kencang tadi di Kintamani, duh saya kembali khawatir, semoga ant*ngin yang ditenggak mama saya ampuh…

4 thoughts on “Berkunjung ke Pulau Dewata Bali : Destinasi Wisata yang tak Pernah Kehabisan Daya Tariknya-Day 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s